Bangunlah. Mungkin bahu itu terlalu keras untuk dipakai bersandar.
Bangunlah. Ada yang salah dengan bahu itu…..
Konon katanya bahu itu bisa menjadi kayu atau kapuk
Kayu untuk mereka yang dibenci
Dan kapuk untuk mereka yang dicinta

Bangunlah. Dan pergi
Tinggalkan bahu kayu itu.. biarkan saja dia melapuk dalam kosongnya
Biar dia bicara dengan diamnya
Melewatkan begitu saja sapaan yang datang

Bangunlah dan menjauh
Beri tahu bahu kayu itu
Kelak dia akan butuh kamu untuk bersandar. Menemani dia dan kekakuannya.
Juga hatinya.

Surabaya, 13 Juni 2014.

Aku sudah selesai dengan buku ini. Meski hanya ada 10 dr ratusan halamannya yang terpakai, nyatanya aku memutuskan untuk sudah memberikan ending dari kisah yang aku tulis. Sampai disini saja. Aku sudah tak ada mood lagi menulis, mengingat pemeran utama;aku sudah mati rasa. Mati suri.

Aku harap mati suri hanya sebatas pada kisah ini. Meninggalkan kenangan yg memang seharusnya menjadi memori indah;untuk dikenang. Ada harapan, akan ada pangeran yg membangunkanku dari mati suri ini, dan membuatku bergairah kembali untuk menulis buku yang baru.

Pitanya merah, tersimpul rapi menutup buku ini beserta kisah yang ada didalamnya. Hatiku memangis, mengalirkan emosi yang kuat dan merangsang air mata ini untuk jatuh…. menajamkan bau cendana sampul buku ini.

Untuk yang terakhir kali, aku menyentuh pita merah buku ini. Berniat membuka, tapi tak jadi. Entah mengapa ada kekutaan yang memaksaku untuk tersenyum, dan meletakkan saja buku ini berjajar dengan buku yang lain. Menyimpannya menjadi kenangan yang benar-benar indah. Kekuatan ini. Yang ternyata adalah aku sendiri, menyuruhku untuk ikhlas.

Aku melihatmu dalam sujudmu, aku melihatmu dan aku tau waktu yang mempertemukan. mengatur langkahku, memberhentikanku sejenak sebelum sampai disini. mengatur langkahmu, mempertemukanmu dengan kawanmu lalu bercakap sejenak. dan akhirnya aku bertemu denganmu disini. Di musholla kecil disudut perpustakaan

aku ada dibelakangmu, mungkin hanya memandangmu. Menjadi makmum bersamamu dan mengikuti jamaah. Warna coklat kemejamu masih aku ingat, dengan hiasan garis pastel yang rapi berbaris ke bawah. kamu berdiri didepanku. Aku tau itu kamu. Tatanan rambutu dan gagang kacamata yang selalu terlihat khas dari belakang, ditambah aksesori plastik berbentuk bulan sabit untuk kacamata yang mencegah agar kacamatmu tak jatuh.

yang aku kagum, Dia selalu punya cara mempertemukan hati yang terpisah

mungkin hanya 3 menit. Aku menjadi makmum bersamamu dan kita shalat bersama. Berdiri didekatmu, dibelakangmu dan mengikuti setiap gerakan komunikasimu dengan Tuhanmu. Ada doa lain dalam sujudku agar kelak kita tetap bisa berjamaah, dirumah kita sendiri.

kamu keluar. Telah selesai ibadahmu dengan tuhanmu. Begitu juga aku. Dan aku tidak lagi ada di belakangmu, aku disampingmu. Dan kali ini, Dia benar-benar memberiku kesempatan melihatmu lebih dekat. Ternyata warna garis di kemejamu bukan pastel, tapi kopi susu.

Sepatu kita bersebalahan,mungkin kebetulan. Tapi yang aku tau kebetulan juga terjadi karena terencana, yang hanya Dia yang tahu. mungkin hanya butuh tatapan darimu saat kita tanpa sengaja menatap dalam diam dan melempar senyum. yang aku rasa, ada getaran didalam dada. meski tatapanmu hanya sebatas kagum dengan sepatuku yang ber hak. Mengingat kamu terlalu tinggi untuk pernah berfikir akan memakai alas kaki degan hak.

yang aku tahu, ada getaran yang sama, karena tatapan yang sama, dr mata yang sama, mesi bukan pada waktu yang sama.

Nyatanya aku cuma bisa diam. Melihatmu dari dekat, tersenyum dan menyapa mencoba memberi tanda bahwa aku memperhatikanmu. Tapi nihil. Sepertinya kamu tetap saja bersikap biasa.

Aku jatuh hati padamu, tapi tidak denganmu yang ternyata jatuh hati pada dia.

aku tahu kamu sadar, dari jauh aku selalu mencarimu. Mencoba menemukan sosokmu dalam gerumbulan kawan-kawanmu. Entah bagaimana, tapi untukku kamu terlihat beda dengan gaya tawamu yg khas dan slengekanmu. Aku nyaman didekatmu. Aku nyaman dengan semua gurauanmu. Entah kenapa aku tidak bisa berhenti tertawa dan tersenyum jika mengobrol denganmu. Meski hanya hal-hal kecil.

rasanya kriteria sudah tidak lagi diperlukan untuk jatuh hati padamu. Tidak perlu menjadi ini dan itu. Kecerianmu yang menular padaku cukup menjadi maghnet kuat yang bisa membuatku jatuh dan jatuh lebih jauh lagi.

tidak butuh waktu lama.

tapi nyatanya aku cuma bisa diam dengan memendam rasa yang perlahan menjadi sakit. Menjadi penyakit.

#kaktus #plants #belajarphotography #green

orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. #malang #selorejo #waduk #nature #backtonature

(Source: gadisoktober)


Yang aku tahu, benang-benang ini berhubungan. Dengan waran nya yang beragam, aku bisa melihat mereka saling melintasi satu sama lain.

Aku tak menemukan ujungnya. Karena mereka membentuk sebuah gumpalan. Mungkin ada harapan-harapan yang tersemat disetiap jengkal benang itu. Mungkin ada takdir yang saling menyapa disetiap pertemuan antara benang yang satu dengan yang lain.

Yang aku lihat pertemuan mereka saling menguatkan, silang menyilang dan dan menopang. Mungkin ada cerita untuk setiap inchi seratnya. Ada keteraturan dan kesinambungan dalam penciptaannya.

Yang aku lihat, tidak ada batas tegas antara satu warna dengan yang lain, tidak ada batas tegas antara benang yang satu dengan yang lain. Seolah harmoni dalam keragamannya.

Yang aku lihat, ada duka dan suka di balik ceritanya, bergantian menyusuri benang-benang itu, membuat warnanya seolah menggambarkan apa yang terjadi.

Yang aku tahu, ada campur tangan Yang Maha Kuasa dalam keselarasannya. Yang aku aku tahu, benang-benang itu sudah diciptakan pun sebelum aku ada didunia ini. Menegaskan bahwa aku punya sebuah cerita dalam hidup ini yang Ia atur dengan perhitungan. Dengan ketelitian dan kepastian. Dengan kematangan.
Akan ada yang datang pergi, akan ada yang hilang dan diganti. Mungkin juga akan ada kamu, atau bukan.

Aku mulai usang
termakan egoku
termakan prinsip untuk mencari
aku mulai usang
termakan logika
termakan angan yang tak berujung pada jawaban.
Aku mulai usang
termakan waktu
lelah mencari
aku mulai usang
dan aku mulai sadar
dulu ada kamu didepanku
aku mulai usang
dan aku mulai sadar
sekarang hanya ada aku
sendiri

setidaknya aku pernah tahu, ada waktu dimana hari hanya terdiri dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam. dan setelah waktu memberiku 12 jam itu, hari kembali memiliki 24 jam.

aku tidak mencatatnya dalam kalenderku. bahkan hari ini pun tidak tercetak dalam kalenderku. biar saja hanya aku yang mengingatnya. mungin lebih aman.

kita sudah lama mengenal. tapi hari ini, aku punya 12 jam untuk lebih dekat dengan kamu. takdir ? mungin iya. aku rasa itu sudah cukup untuk membuat ku tahu, kau pernah membagi rotimu untukku. mungkin hanya pada kesempatan ini aku bisa tersenyum kepadamu saat kita bertemu, mengingat pada hari biasa hanya ada buangan muka pada setiap kita berpapasan. aku rasa 12 jam sudah cukup, untuk pernah duduk disampingmu, mendengar ceritamu tenyang kesibukanmu, atau bahkan kenapa kau ada disini. aku rasa, 12 jam sudah cukup untuk pernah membuatmu memintaku menemanimu pergi mengantar sanak ke bandara, karena kau tak mau sendirian. aku rasa 12 jam sudah cukup, untuk pernah mendegar kau akan menemaniku menyusuri jalan gelap saat aku pulang, karena aku takut sendirian. aku rasa …. 12 jam yang telah kulalui tadi bersamamu cukup untuk membuatku tak punya alasan untuk tidak menaruh perhatian padamu.

aku rasa12 jam yang tadi adalah kesempatanku. aku rasa …
ah sudahlah, bermain dengan perasaan haya mendatangkan rasa, bukan kenyataan. lalu kini, aku tak mau lagi merasa, tapi dengan pasti aku akan bilang, 12 jam yang aku lalui bersamamu mungkin hanya 12 jam yang biasa untukumu. jadi tak ada alasan untuk tidak mencatat hari ini pada kalender bukan ?