"Jangan salah. Yang kecil pun bisa berdampak besar."
"Tidak perlu yang muluk-muluk untuk membut mereka disekitarmu nyaman saat bersamamu. Cukup menjadi seseorang yang ramah dan dilengkapi dengan bumbu kebaikan kecil. Siapa yang bisa menolak pesona itu?"
"Allah akan menemukanmu dengan yang salah dulu, lalu yang benar. Agar kau tau betapa berharganya dia."

Logika tau siapa yang layak dan pantas untuk diperjuangkan tapi hati tahu siapa yang ingin kita tunggu.
Biar saja sekarang aku belajar untuk menunggunya terlebih dahulu. Lalu merasakan kekecewaaan dan mungkin besok aku akan tau apa yang kamu rasakan sekarang. Waktu yang akan menyadarkanku bahwa keinginan akan kalah oleh realita dan ketulusan. Terkesan jahat, tapi pada titik ini 2 pilihan yang seperti simalakam menghadangku.
Menyadari aku yang belum dewasa dan masih lebih mementingkan perasaan tanpa pertimbangan,aku tau ini terlalu dini dan kekanakan untuk membiarkan kamu pergi.
Aku tidak akan memintamu kembali, terlalu banyak sakit yang aku torehkan dan aku sadar aku adalah seseorang yang memang tidak untuk kau tunggu. Seperti dia yang memang tidak seharusnya aku tunggu. Efek Domino yang ironi, bukan?.

Aku berharap semoga kebaikan selalu menyertaimu dan luka yang kutorehkan segera mengering. Yakinlah ada banyak sesorang yang jauh lebih baik dan akan memberi lebih dariku. Ketulusanmu terlalu berharga untuk aku sia-siakan lebih lama lagi dan aku rasa akan jahat jika aku membiarkanmu berhenti padaku sementara aku belum bisa melakukan hal serupa. Dan kejahatanku akan bertambah saat aku tau kau sedang menungguku tapi aku belum bisa berhenti padamu dan masih menunggu yang lain. Disini aku sedang meneguhkan prinsipku.

Aku bersyukur pernah menjadi bagian darimu dan mengenalmu lebih jauh. Jujur kamu terbaik diantara yang terbaik. Tapi aku belum bisa melihatmu seperti caramh melihatmu. Mungkin hanya masalah waktu dan intensitas. Sepele? Memang. Aku yang belum dewasa dalam berpikir dan mengambil sikap dalam jangka pendek. Tanpa aku minta, aku tau kamu pasti mengerti.

Hati tau setiap langkah yg harus diambil dan mungkin ini akan menjadi pembelajaran untukku.

Untuk kamu yang baik hatinya, semoga kebaikan selalu menyertaimu.

Saat penyesalan tak bisa membawa dia yang dengan gamblang kau ijinkan untuk pergi
Saat itu pula kau akan belajar betapa mereka yang tulus lebih berarti dari mereka yang kau pikir akan membuatmu nyaman
Waktu memberimu sebuah pelajaran tentang kebutuhan yang tidak bisa digantikan oleh keinginan yang semu
Dan penyeselan semacam ini seolah memberi tahumu bahwa dulu kau sedang dimabuk logika yang terbalik

Cukup aku yang tahu
Diantara ratusan kepala aku masih berusaha mencarimu
Lalu kau memergokiku dan sebentar saja menoleh
Ada kisah yang tak berimbang
Aku yang bersedih dan kamu hanya lewat
Cukup aku yang tahu dan mungkin kamu
Cukup kita yang tahu
Aku merasa dan kamu mengasah

"Setidaknya saat tindakan kita dikecam oleh banyak orang, kita tau ini yang akan membawa ketenteraman untuk kita karena setiap hati kecil manusia sama - penuntun yang terbaik menurut versinya."
"1 nama, yang ketika tidak segaja terdengar atau terpikirkan akan membuat separuh jiwamu senang dan sisanya muram."
"Meski tak bertelinga, tapi hati bisa merasakan dengan nada apa kau berbicara, dan dengan maksud apa aku mengucapkannya."
"Tuhan menciptakan hati, yang meski tak berwujud tapi bisa merasakan apa yang didengar, dilihat, teraba bahkan yang hanya sekedar “sepertinya”."