"Menulis adalah ungkapan ekspresi yang dituangkan dalam bentuk sebuah kata, sepotong kalimat, lembaran kata hingga setumpuk buku. Luapan emosi wujud perasaan yang yang seringkali tidak bisa terucapkan. Kumpulan fakta yang terangkum menjadi ingatan dalam memori dan memahat hati.
Menulis adalah curahan perasaan yang tersembunyi. Melukiskan wajah kedua yang terkadang hanya kita sendiri yang tahu. Mengambarkan apa-apa yang sebenarnya bermakna, menyebalkan dan makan hati."
"Pujian memang mematikan. Dan rayuan adalah godaan. Jangan sangka, yang kita puji-puji baik bisa juga berkata dibelakang. Yang kita sebut-sebut menyebalkan bisa juga menyenangkan. Siapa yang pernah tahu isi hati terdalam?."
"Jangan lupa, ada perasaan yang bisa merasakan meski kau hanya diam dan menyimpannya. Ada mata yang juga melihat yang tak tampak dan kau sembunyikan dibalik kerutan wajah. Ada hati yang tau bahwa semua sedang tidak baik-baik saja."
"Menghargai itu penting. Seringkali kita lupa melakukannya. Padahal mungkin hanya dengan memberikan tepuk tangan, ucapan terimakasih, meski sederhana setidaknya menunujukkan kalau apa yang mereka lakukan juga penting dan merupakan bagian yang jika hilang akan merusak sistim."
"Bisa jadi selangkah yang kita ambil adalah jalan yang seharusnya. Terkadang memang dibutuhkan perubahan rencana. Hidup memang tentang sebuah pilihan bukan?"
"Saat apa yang kau pinta belum terwujud, Yang Maha Mengetahui sedang menguji seberapa besar keyakinanmu pada rencananNya."
"Berseberangan tapi bisa melihatnya lebih baik dari berada disampingnya namun diam."
"Menyerah bukan berarti kalah. Asal sudah mencoba, mungkin menyerah akan membawa ke pintu lain yang lebih baik."

Selintas. Sepintas. Goresan pensil yang kaupegang membentuk balok panjang dengan segitiga diatasnya -sebuah menara. Kuperhatikan dengan seksama meski kau tak sadar. Isi kepalamu sudah diambil alih oleh kertas dan pensil itu.
Fokus pada apa yang ingin kau ungkapkan, tanganmu mulai pindah kesisi lain dari menara. Terlihat bentukan awan besar dan putih. Arsiran hitam yang kau tambahkan menghidupkan sang awan seolah ingin menghujani apa-apa yang ada dibawahnya. Dengan sedikit sentuhan;dramatis, kau tambahkan bentukan jendela yang megah. Meski jauh bisa kulihat ada sosok terduduk dan menunggu dibalik jendela yang kau gambarkan dengan tipis.

Aku tak sengaja mendengar pertanyanmu. Tidak penting tentang siapa dia. Aku ingin ketulusanmu datang dan melihatku sepertinya. Dalam ketidak sempurnaan. Dalam keterbatasan dan kekurangan yang melebihi apa yang bisa kubanggakan
Malam itu, sambil menenteng sekeresek hitam penuh berisi serpihan hati. Aku pulang.